Entah sudah berapa banyak bus kota yang datang dan pergi sejak dia duduk di halte itu. Namun tak satupun yang membuatnya tertarik untuk naik dan meninggalkan tempat itu. Dia masih sja terpaku memandangi lalu-lintas jalanan ibu kota yang tiada henti. Bising suara deru mobil beradu dengan makian para pejalan kaki yang mengutuki hari. Jakarta memang terasa sumpek dan panas di siang hari ketika sang surya bersinar dengan teriknya.
Sudah hampir tiga jam dia masih saja duduk di sana. Tak dipedulikannya tatapan curiga bapak tua pedagang asongan yang sejak tadi memperhatikannya. Ia seolah sibuk dengan dunianya sendiri. Rasa penasaran mendorongku untuk menghampirinya. "Sejak beberapa jam yang lalu kuperhatikan kau masih saja duduk di sini, padahal bus bergantian datang dan pergi. Apa yang sedang kau lakukan, apakah kau sedang menunggu seseorang dik?", tanpa kusadari pertanyaan demi pertanyaan meluncur begitu saja dari bibirku. "Tak ada!", jawabnya singkat tanpa menoleh padaku. "Tapi mengapa kau masih di sini sementara hari mulai petang", aku mencoba untuk menarik perhatiannya. Namun dia tak bergeming. Lama dia baru menjawab. "Entah mengapa setiap kali melewati tempat ini aku kembali teringat kenangan itu. Kenangan kisah cintaku yang indah namun berakhir pilu". dia pun mulai mengawali kisahnya...
Semua berawal di suatu sore di tempat ini. Seperti biasa sepulang kerja aku menunggu bus kota dan sebuah ketidaksengajaan mempertemukanku dengan seorang gadis pujaan hatiku. Rupanya hari itu adalah hari keberuntunganku. Bagaimana tidak, aku bertemu dengan seorang gadis manis yang menarik hatiku dan membuatku hampir tak berkedip memandangnya. Dan ternyata gadis itu adalah Erni teman masa kecilku. Erni yang sekarang nampak lain. Sekarang dia terlihat begitu anggun dan mempesona. Sejak pertemuan di sore itu, aku dan dia jadi sering jalan bersama. Nonton, jalan ke mall atau sekedar makan. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Erni di Jakarta ini. Kesibukan kerja membuatku tak bisa untuk sekedar mengenal wanita. Dan Erni telah merubah segalanya.
Kehadiran Erni membuat hidupku tak lagi monoton dan makin berirama. Apalagi selain cantik ternyata dia juga perhatian dan baik hati. Dia selalu mendukungku di saat aku mempunyai masalah dengan pekerjaanku di kantor. Kebaikan dan perhatian Erni benar-benar membuatku jatuh hati. Semakin hari aku tak kuasa untuk menahan perasaanku padanya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian akhirnya kuungkapkan segenap perasaanku padanya. Gayung pun bersambut karena ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama kepadaku. Akhirnya kami pun resmi berpacaran. Aku bahagia sekali mempunyai kekasih yang pengertian dan penuh kasih sayang seperti dia.
Sayangnya kebahagiaanku terusik ketika dia harus pergi ke negeri seberang dalam jangka waktu yang lama. Kalau bukan karena urusan pekerjaan, aku tak akan rela untuk melepaskan kepergiannya. Dengan berat hati kulepaskan kepergian gadis pujaanku itu di bandara. Selepas kepergiannya, hari-hari sepi membayang di mataku. Ada rasa kekhawatiran yang tiba-tiba bermunculan di hatiku. Aku takut terjadi sesuatu padanya di sana. Bagaimana kalau dia tertarik dengan lelaki lain dan melupakanku? Namun janji setia Erni menghapuskan segala prasangka dan rasa kekhawatiranku yang tidak beralasan. Hanya saja kadang aku tak kuasa menahan kerinduanku padanya. Jarak dan waktu yang memisahkan tak memungkinkan aku dengan mudah menjumpainya. Aku hanya bisa memandangi fotonya atau sekedar mendengar suaranya di telepon.
Dalam hari-hari sepiku tanpa Erni, hadir sosok gadis lain dalam hidupku. Gadis itu bernama Reva. Sebagai lelaki normal, aku tak menyangkal kalau Reva adalah seorang gadis yang cantik dan menarik. Siapapun pasti tak akan menolak untuk menjadi kekasihnya. Pembawaannya yang manja dan menggoda, hampir saja membuatku melupakan Erni, kekasihku. Aku hampir tergoda oleh sikap manja dan perhatian Reva yang agak berlebihan kepadaku. Namun janji setiaku pada Erni menyadarkanku dari mimpi. Secantik apapun Reva, dia tak sebanding dengan Erni yang selama ini telah dengan setia mencintaiku setulus hati.
Menjelang kepulangan Erni, hatiku semakin tak karuan menahan kerinduanku padanya. Rasanya aku tak sabar untuk segera berjumpa dengan gadis pujaan hatiku itu. Aku sengaja datang lebih awal untuk menjemputnya di bandara. Dari arah pintu kedatangan kulihat dia melambaikan tangan padaku. Dia tersenyum, duuuh makin cantik saja dia. Kuhampiri dia, kugenggam erat tangannya. Mata kami saling beradu pandang, dan di sana kutemukan sinar kerinduan itu. Kurengkuh dia dalam pelukanku, dan kami sama-sama menangis. Tangis kebahagiaan karena telah kembali dipertemukan.
Hadirnya Erni di sisiku kembali, membuatku tak ingin berpisah dengannya lagi. Kukatakan padanya tentang rencanaku untuk mempersatukan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Aku ingin menikahinya tahun depan dan dia setuju dengan rencanaku. Teman-temanku pun banyak yang mendukung rencanaku. Kata mereka wajahku dan wajah Erni sangat mirip. Mungkin jodoh kali ya. Aku sangat berharap Erni adalah jodoh yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupku, calon ibu dari anak-anakku nanti. Aku yakin kalau orang tuaku akan menerima Erni sebagai calon isteriku dengan senang hati.
Pada hari raya Idul Fitri, kuajak Erni ke rumahku untuk bersilaturahmi sekaligus kuperkenalkan pada orang tua dan juga keluargaku. Orang tuaku nampak senang dengan kehadirannya. Namun ketika aku mengutarakan niatku dan memohon ijin untuk menikahi Erni, tiba-tiba nenekku angkat bicara. Sebagai orang tertua dalam keluarga kami, nenek sangat dihormati. Namun aku sangat terkejut dengan perkataan nenek yang melarang aku menikahi Erni. Aku benar-benar tidak menduga dengan jawaban nenekku yang tidak mau memberikan restu.
Apa yang salah dalam diri Erni sehingga nenekku melarangku untuk menikahinya? Dan sungguh aneh, ayah dan ibuku pun hanya diam saja tak ada yang berani angkat bicara. Kulihat Erni hanya tertunduk berurai airmata. Pasti dia sangat malu dan kecewa dengan penolakan nenekku. Akupun tak bisa berbuat apa-apa. Rupanya nenekku yang tahu asal-usul dan silsilah dalam keluarga kami telah mengetahui bahwa di antara aku dan Erni masih ada hubungan pertalian darah, sehingga terlarang untuk menikah. Hatiku benar-benar terpukul dengan kenyataan ini. Mengapa gadis yang sangat kucintai adalah saudaraku sendiri yang menurut hukum agama maupun adat tak boleh untuk kunikahi? Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi?
" Begitulah ceritanya mengapa aku selalu teringat kenanganku setiap kali melewati tempat ini. Aku menyadari bahwa semua ini takdir Illahi. Tapi kadang aku juga tak kuasa menahan airmata setiap mengingat semua ini. Apa tak wajar bila aku sebagai seorang lelaki merasa sedih dengan kenyataan ini?" "Wajar saja, tapi janganlah terus terlarut dengan kesedihan. Kalau kamu bisa menyadari bahwa semua ini takdir, apalagi yang kau sesali dan membuatmu terus bersedih? Pasrahkanlah semua pada Yang Kuasa, Dia yang lebih tahu yang terbaik buat kita. Mungkin juga Allah mempunyai rencana yang lebih indah dan masih menyimpannya untukmu. Bukankah "CINTA TAK HARUS MEMILIKI?".
Lama dia terdiam, sekilas dia nampak ragu tapi akhirnya dipaksakannya untuk menoleh ke arahku. "Aku sedih bukan hanya karena aku tak boleh menikahinya tapi karena sejak kejadian itu, Erni jadi sulit untuk ditemui. Pasti dia sangat sedih dengan kenyataan ini. Atau mungkin juga dia marah padaku sehingga tak mau melihat mukaku lagi." "Jangan berprasangka dulu dik...mungkin dia hanya perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri dan belajar untuk menerima kenyataan", hiburku. "Ya semoga saja begitu. Astaghfirullahal'adzim, ampuni aku ya Allah...sekarang aku hanya ingin dia mema'afkanku dan bisa menerima kenyataan ini. Aku ingin melihat dia tersenyum lagi seperti dulu". "Harapan yang bagus. Dengan kejadian ini kau tahu bahwa menjalin silaturahmi itu penting, agar kita tahu siapa saudara dan siapa yang hanya sekedar kawan. Agar tak ada lagi penyesalan ketika hubungan itu terlarang. Sekarang sudah mau maghrib, pulanglah! Semoga esok akan lebih baik". Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar